Assalamu'alaikum...!!! "...Welcome to my blog..."

Rabu, 01 Februari 2012

Keluargaku, Idamanku



Malam itu, langit terlihat sangat gelap dan muram. Tidak ada bulan dan bintang yang meneranginya. Hujan turun dengan lebatnya. Mengguyurkan air dari langit dengan derasnya. Sesekali terdengar suara guruh yang memekakkan telinga. Langit malam ini seakan ikut bersedih seiring dengan terus mengalirnya air mataku. Hatiku perih sekali melihat kondisi rumah yang selalu terisi oleh keributan. Rumahku seakan terhalang oleh ketentraman, ketenangan, dan kebahagiaan.

Pikiranku kembali melayang. Kejadian sore tadi masih terekam jelas dalam memoriku, sangat menyesakkan dan membuat hati ini hancur berserakan.

“Heh, Pak, banguuun! Tidur melulu, Orang kog seharian kerjaannya cuma tidur.” kata ibuku kesal.

“Bu, apa-apaan sih Kamu? Gangguan orang saja. Aku itu capek. Sana pergi! Jangan ganggu aku!” jawab bapakku marah.

“Capek? Seharian cuma tidur saja kog bisa caek? Suami macam apa Kamu? Harusnya suami itu kerja, cari uang buat anak istri. Lah, Kamu malah tidur-tiduran dan enak-enakan. Dasar pemalas!” kata ibuku tambah jengkel.

“Bu, kalau ngomong itu dijaga ya mulutnya. Kamu kan tahu, kemarin-kemarin aku itu juga kerja, membanting tulang. Kamu juga kan yang menerima uang hasil kerja payahku? “ jawab bapakku.

“Uang apa? Uang segitu mah buat makan sehari saja kurang, Pak!. Makanya, kalau kerja itu pakai otak, jangan pakai dengkul! Jadi suami kog bodohnya minta ampun,” kata ibuku lagi

“Plaaaaak…” sebuah tamparan keras mengenai pipi ibuku. “ Jaga mulutmu!” kata bapakku penuh api kemarahan.

“Cukuuuup, Pak, Bu! Hentikan. Jangan bertengkar lagi!” kataku sambil berlari memeluk ibuku yang tengah bercucuran air mata.


“Kriiiing…Kriiiing..,” hp ku berdering dan membuyarkan semua lamunanku.

Aku segera membuka hp ku. Sebuah pesan masuk ke inbox ku.

“Jika Engkau merasa bahwa segala hal yang ada di sekitarmu terasa gelap dan pekat, tidakkah
Dirimu merasa bahwa Engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan! Maka, berkilaulah!”

Isi pesan pendek itu benar-benar menyejukkan. Rangkaian kata-kata indah nan penuh makna di dalamnya serasa angin sejuk yang mengalir ke dalam relung hatiku. Mendadak, timbullah semangat dakwah dalam diriku. Aku bertekad harus memperingatkan orang tuaku, menjadikan keluarga ini kembali tentram dan bahagia.


Keesokan harinya…

“Pak, Bu… Kita berangkat ke pengajian yuuk. Ada kajian bagus lho di masjid sebelah. Temanya tentang keluarga sakinah.” kataku tersenyum penuh harap.

“Malas banget ah. Buang-buang waktu saja. Aku lagi sibuk.” jawab kedua orang tuaku hampir bersamaan.

“Yaaach, Bapak, Ibu. Kan tidak ada ruginya kalau kita ngaji. Ayolah, Pak,Bu! Sekali ini saja.” jawabku mencoba membujuk.

“Cukup, Erna! Pintar ya kamu sekarang. Dah berani maksa-maksa orang tua segala. Pergi saja sana sendiri. Kamu itu tahu apa?” kata ayahku dengan suara meninggi.

Aku langsung bergegas meninggalkan mereka berdua. Butiran-butiran air mataku hampir menetes mendengar kata-kata pedas dari bapakku tadi. “Ya Allah, kuatkan aku. Tolong, jangan Kau murkai kedua orang tuaku. Apa yang harus aku lakukan untuk menyadarkan mereka berdua ya Rabbi?” ratapku pilu.


Sepulang dari pengajian, aku kembali disambut dengan kejadian menyesakkan itu lagi. Teriakan, makian, kata-kata kasar, bahkan tamparan, hadir tepat di depan mataku. Aku urungkan niat untuk masuk ke rumah, namun suara mereka masih sangat jelas terdengar dari luar rumah.

Ingin sekali aku menangis mendengar pertengkaran mereka. Hatiku teriris. Ternyata, ibuku tidak bisa memasak hari ini. Beras habis, sedangkan bapakku sendiri masih belum kerja. Bapakku marah-marah karena menuduh ibu tidak bisa mengatur keuangan.

“Ya Rabbi, apa yang harus aku perbuat?” ratapku dalam hati.

Mendadak aku teringat pada uang dalam tabunganku. “Bukankah masih ada uang di sana? Ya, aku harus segera mengambilnya dan memberikannya pada kedua orang tuaku.”
Segera aku putar balik kemudi sepeda motorku. Bergegas aku pergi ke mesin ATM. Empat lembar uang lima puluh ribuan aku ambil. Selanjutnya, aku langsung balik ke rumahku.

Sesampainya di rumah, mereka masih terlihat asyik bertengkar.Aku masuk, pelan-pelan aku dekati mereka berdua. Sejenak, aku pandangi wajah bapak dan ibuku bergantian dengan penuh tatapan kasih sayang. Wajah yang kini terlihat lusuh dan muram, penuh dengan kesedihan. Aku rogoh saku celanaku. Aku letakkan empat lembar uang lima puluh ribuan pada jemari kasar ibuku.”Bu, terimalah uang ini! Tidak ada gunanya kalian berdua bertengkar terus-menerus.” kataku sambil tersenyum.
Ibuku terdiam. Ayahku pun juga terdiam. Sayup-sayup aku melihat genangan air di kedua mata sayu orang tuaku.

“Nak, darimana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?” Tanya ibuku dengan suara bergetar.

“Itu uang tabunganku Bu,Pak. Pakailah! Jujur, aku tidak sanggup melihat keluarga kita kelaparan padahal aku masih mempunyai simpanan uang. Biarlah. Insyaallah nanti Allah yang akan menggantinya.” jawabku haru.

Serentak, bapak dan ibuku memelukku erat sambil membisikkan sebuah kalimat yang telah lama aku rindukan.

“ Terima kasih, Nak. Ibu sayang sekali sama kamu,” kata ibuku.

“Bapak juga sayang sama kamu, Erna. Kamu benar-benar anak yang baik.” kata bapakku.

“Aku juga sayang banget sama Bapak dan Ibu. Hmmm, Bapak, Ibu, bolehkah aku minta sesuatu?”
tanyaku kemudian

“Apa itu,Nak?” jawab bapak dan ibuku hampir bersamaan.

Aku menggenggam jemari ibuku dengan tangan kananku. Aku menggenggam jemari bapakku dengan tangan kiriku. Bergantian, aku tatap kedua mata mereka. Penuh harap, aku satukan kedua jemari itu, seraya berbisik, “Bapak, Ibu, aku tidak ingin melihat kalian bertengkar lagi. Berbaikanlah Bu,Pak! Kita sedang diuji sama Allah. Kita memang harus banyak bersabar menghadapi kondisi perekonomian keluarga kita. Bapak dan Ibu juga harus mulai mengingat Allah kembali. Aku sangat merindukan kebahagiaan, Bu,Pak.”

Ayah dan ibuku saling berpandangan. Ada tatapan cinta dan kasih sayang di kedua mata mereka. Kulihat mereka lalu berpelukan. Saling mengungkapkan penyesalan masing-masing.

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur. Tak kuasa air mataku mengalir penuh haru. Terima kasih, ya Allah. Semoga hari ini menjadi awal yang baik buat keluargaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar